Sudah lama saya ingin menuliskan uneg-uneg saya tentang
Manchester United jika saja blog ini tidak telat dirilis. Ketika saya baru akan
memulai mengisi blog ini, laga terakhir MU berujung tragis. MU dihajar 0-3 dari
Arsenal di Emirates Stadium. Tiga gol The Gunners dilesakkan hanya dalam
rentang 20 menit babak pertama.
Sejak 20 menit babak pertama saya mulai cemas. Jika
permainan MU tidak berubah, bisa saja pemain MU merasakan malu yang sama
seperti yang dialami pemain Arsenal ketika dihajar 2-8 di Old Trafford. Untung
saja pemain Arsenal masih ‘berbaik hati’ dengan cukup memberi tiga gol saja.
Bahkan jika saja tendangan Chamberlain tidak menerpa tiang gawang, kekalahan MU
akan menjadi 0-4.
Saya tidak habis pikir betapa mudahnya pemain Arsenal
mengeksploitasi lini pertahanan MU tanpa tedeng
aling-aling. Lini tengah, terutama duet Carrick-Schweinsteiger tidak
bekerja sebagaimana mestinya untuk melindungi back four MU. Lini tengah MU sedikit membaik ketika Fellaini masuk
sehingga pemain Arsenal tidak leluasa lagi menembus pertahanan MU. Agaknya, pandangan
para pemain Arsenal terhalang oleh kibasan rambut Fellaini.
Di sektor bek sayap, Darmian kalah telak dalam menghadang
Sanchez yang dribbling-nya membadai
dari sisi kanan. Di sisi kiri, Ashley Young sibuk memutar-mutar badan hanya
untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman agar kaki kanannya bisa menendang
bola. Bisa saja Antonio Valencia bernasib serupa jika dimainkan sebagai fullback kiri. Sementara duet bek tengah,
Smalling-Blind dibuat tak berdaya setelah rekan-rekannya tidak cukup baik
mengorganisir pertahanan.
Serangan MU pun seperti biasa, lebih banyak umpan tanpa satu
pun yang mengancam gawang lawan. Permainan Faktanya, tidak bisa dipungkiri
bahwa MU hampir selalu kesulitan mencetak gol dari open play di Premier League. Corak permainan MU yang mendewakan ball possesion sudah berulang kali
kesulitan menembus barisan pertahanan lawan yang parkir bus. Gol-gol MU dalam
tiga laga terakhir di Premier League pun lebih karena pertolongan skill remaja 19 tahun yang bahkan tidak
dikenal Wayne Rooney sebelumnya.
Kinerja Memphis dan Rooney pun pantas dikritik. Kedua pemain
itu menjadi pemain yang paling sering kehilangan bola dengan rataan
masing-masing 4,4 dan 2,7 per laga. Bayangkan sebuah situasi ketika Ashley
Young dari pos fullback kiri melakukan
overlapping sekuat nafas. Tapi ketika
sampai di final third, apa lacur bola terhenti karena Memphis
lebih memilih melakukan solo dribbling yang
sialnya, lebih sering gagal. Serangan MU terhenti, lawan melakukan serangan
balik dan MU kebobolan.
Dalam pertandingan sepakbola, kehilangan bola adalah hal yang
wajar. Setiap pemain bisa mengalaminya. Tapi terlalu sering kehilangan bola
hingga merusak skema serangan tim sendiri tentu sangat menjengkelkan. Apalagi
jika kesalahan tersebut dilakukan oleh pemain yang ‘itu-itu saja.’ Situasi
menjadi lebih menjengkelkan karena pemain yang sering kehilangan bola itu tidak
kunjung diganti, alih-alih diberi kepercayaan untuk menjadi starter di setiap laga.
Sebagai fans, saya tidak bisa sesumbar tentang gelar atau
pencapaian prestisius apapun saat ini. Permainan MU masih menampilkan kelemahan
di sana sini. Para pemainMU sering ‘lambat panas’ di babak pertama. Sejak
cederanya Luke Shaw, koordinasi lini pertahanan MU sangat rentan di 15 menit
awal babak pertama. Tercatat sudah 4 gol yang bersarang ke gawang De Gea dalam
rentang waktu tersebut.
Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, MU bisa saja
menjadi bulan-bulanan lawan seperti ketika melawat ke Emirates pekan lalu. Everton
dan ‘Tetangga Berisik’ siap melanjutkan tren kekalahan MU jika performa para
pemain dan taktik yang diusung Van Gaal tidak berubah.
Ngomong-ngomong, jangan buru-buru membuat petisi atau donasi
di internet untuk dana pemecatan Van Gaal. Kita tentu tidak ingin melihat MU
seperti ‘tim tetangga’ yang terlampau sering ganti-ganti pelatih namun tetap
nihil gelar. Sebuah cara yang tidak elegan sama sekali.


