Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Wednesday, 7 October 2015

Stagnansi Permainan MU yang Kian Memprihatinkan


Sudah lama saya ingin menuliskan uneg-uneg saya tentang Manchester United jika saja blog ini tidak telat dirilis. Ketika saya baru akan memulai mengisi blog ini, laga terakhir MU berujung tragis. MU dihajar 0-3 dari Arsenal di Emirates Stadium. Tiga gol The Gunners dilesakkan hanya dalam rentang 20 menit babak pertama.

Sejak 20 menit babak pertama saya mulai cemas. Jika permainan MU tidak berubah, bisa saja pemain MU merasakan malu yang sama seperti yang dialami pemain Arsenal ketika dihajar 2-8 di Old Trafford. Untung saja pemain Arsenal masih ‘berbaik hati’ dengan cukup memberi tiga gol saja. Bahkan jika saja tendangan Chamberlain tidak menerpa tiang gawang, kekalahan MU akan menjadi 0-4.

Saya tidak habis pikir betapa mudahnya pemain Arsenal mengeksploitasi lini pertahanan MU tanpa tedeng aling-aling. Lini tengah, terutama duet Carrick-Schweinsteiger tidak bekerja sebagaimana mestinya untuk melindungi back four MU. Lini tengah MU sedikit membaik ketika Fellaini masuk sehingga pemain Arsenal tidak leluasa lagi menembus pertahanan MU. Agaknya, pandangan para pemain Arsenal terhalang oleh kibasan rambut Fellaini.

Di sektor bek sayap, Darmian kalah telak dalam menghadang Sanchez yang dribbling-nya membadai dari sisi kanan. Di sisi kiri, Ashley Young sibuk memutar-mutar badan hanya untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman agar kaki kanannya bisa menendang bola. Bisa saja Antonio Valencia bernasib serupa jika dimainkan sebagai fullback kiri. Sementara duet bek tengah, Smalling-Blind dibuat tak berdaya setelah rekan-rekannya tidak cukup baik mengorganisir pertahanan.

Serangan MU pun seperti biasa, lebih banyak umpan tanpa satu pun yang mengancam gawang lawan. Permainan Faktanya, tidak bisa dipungkiri bahwa MU hampir selalu kesulitan mencetak gol dari open play di Premier League. Corak permainan MU yang mendewakan ball possesion sudah berulang kali kesulitan menembus barisan pertahanan lawan yang parkir bus. Gol-gol MU dalam tiga laga terakhir di Premier League pun lebih karena pertolongan skill remaja 19 tahun yang bahkan tidak dikenal Wayne Rooney sebelumnya.

Kinerja Memphis dan Rooney pun pantas dikritik. Kedua pemain itu menjadi pemain yang paling sering kehilangan bola dengan rataan masing-masing 4,4 dan 2,7 per laga. Bayangkan sebuah situasi ketika Ashley Young dari pos fullback kiri melakukan overlapping sekuat nafas. Tapi ketika sampai di final third, apa lacur bola terhenti karena Memphis lebih memilih melakukan solo dribbling yang sialnya, lebih sering gagal. Serangan MU terhenti, lawan melakukan serangan balik dan MU kebobolan.

Dalam pertandingan sepakbola, kehilangan bola adalah hal yang wajar. Setiap pemain bisa mengalaminya. Tapi terlalu sering kehilangan bola hingga merusak skema serangan tim sendiri tentu sangat menjengkelkan. Apalagi jika kesalahan tersebut dilakukan oleh pemain yang ‘itu-itu saja.’ Situasi menjadi lebih menjengkelkan karena pemain yang sering kehilangan bola itu tidak kunjung diganti, alih-alih diberi kepercayaan untuk menjadi starter di setiap laga.

Sebagai fans, saya tidak bisa sesumbar tentang gelar atau pencapaian prestisius apapun saat ini. Permainan MU masih menampilkan kelemahan di sana sini. Para pemainMU sering ‘lambat panas’ di babak pertama. Sejak cederanya Luke Shaw, koordinasi lini pertahanan MU sangat rentan di 15 menit awal babak pertama. Tercatat sudah 4 gol yang bersarang ke gawang De Gea dalam rentang waktu tersebut.

Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, MU bisa saja menjadi bulan-bulanan lawan seperti ketika melawat ke Emirates pekan lalu. Everton dan ‘Tetangga Berisik’ siap melanjutkan tren kekalahan MU jika performa para pemain dan taktik yang diusung Van Gaal tidak berubah.


Ngomong-ngomong, jangan buru-buru membuat petisi atau donasi di internet untuk dana pemecatan Van Gaal. Kita tentu tidak ingin melihat MU seperti ‘tim tetangga’ yang terlampau sering ganti-ganti pelatih namun tetap nihil gelar. Sebuah cara yang tidak elegan sama sekali.

0 comments:

Post a Comment